“Krisis lingkungan pada hakikatnya adalah krisis spiritual manusia dalam memandang alam sebagai amanah Ilahi.” — Seyyed Hossein Nasr
Buku Bahasa, Budaya, dan Agama: Wacana Makna dan Kesadaran Ekologis menghadirkan kajian interdisipliner yang menempatkan krisis ekologis sebagai persoalan makna, nilai, dan orientasi hidup manusia. Berangkat dari perspektif humaniora, buku ini menegaskan bahwa bahasa, budaya, dan agama merupakan fondasi utama dalam membentuk kesadaran ekologis yang berkelanjutan. Bab-bab awal menguraikan bagaimana bahasa berfungsi sebagai rumah makna alam melalui ekoleksikon, metafora, dan konstruksi wacana lingkungan, serta bagaimana tradisi lisan Nusantara—seperti mitos, legenda, mantra, dan cerita rakyat—menyimpan etika ekologis yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Budaya dan kearifan lokal dipahami sebagai sistem nilai dan praktik ekologis yang lahir dari relasi harmonis manusia dengan alam, sekaligus menjadi alternatif penting terhadap paradigma eksploitasi modern.
Selanjutnya, buku ini mengkaji peran agama dan teologi lingkungan dalam membangun tanggung jawab ekologis berbasis kosmologi, amanah, dan spiritualitas. Bahasa ritual dan simbol sakral alam dibahas sebagai representasi kesucian alam dalam doa, upacara, dan teks keagamaan, yang kemudian diperdalam melalui pendekatan ekokritik sastra dan pembacaan ekologis terhadap hikayat, sastra religius, dan kitab suci. Bab-bab akhir menekankan pergeseran dari kesadaran simbolik menuju tindakan ekologis nyata melalui identitas budaya dan keagamaan, serta pentingnya pendidikan literasi ekologis berbasis bahasa dan budaya sebagai sarana transmisi nilai lintas generasi. Buku ini ditutup dengan refleksi integratif mengenai tantangan dan arah pengembangan kajian ekohumaniora, serta tawaran konseptual untuk membangun masa depan yang berkelanjutan melalui sinergi bahasa, budaya, dan agama.












Ulasan
Belum ada ulasan.